Alaku
Alaku

Banjir Besar Pertama di Aceh Utara: Basarnas Beberkan Tantangan Berat 14 Hari Operasi SAR

Cloud Hosting Indonesia

RADAR KEPRI, Banda Aceh – Kepala Kantor Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banda Aceh, Ibnu Harris Al Hussain, mengungkapkan bahwa banjir besar yang melanda Provinsi Aceh sejak 25 November 2025 merupakan bencana hidrometeorologi dengan cakupan dampak terluas dalam sejarah. Untuk pertama kalinya, wilayah Aceh Utara, Bireuen, dan Lhokseumawe terdampak banjir secara bersamaan.

Dalam konferensi pers di Posko Pusat Informasi dan Media Center Penanganan Bencana Kemkomdigi, Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh, Senin (8/12/2025), Ibnu Harris menegaskan bahwa operasi SAR telah memasuki hari ke-14, dan masih terus berlangsung.  “Ini pertama sekali terjadi banjir di Aceh Utara. Tidak lama setelah itu, kami menerima laporan Bireuen juga banjir. Bahkan Lhokseumawe ikut terendam. Tiga wilayah itu sebenarnya satu area pos SAR, tapi semuanya terdampak bersamaan,” ujarnya.

Ibnu Harris menjelaskan bahwa Basarnas awalnya mengirimkan personel dari Banda Aceh menuju Aceh Utara. Namun perjalanan terhenti ketika tiba di Pidie Jaya, karena wilayah itu juga terendam air bah. “Saat tim sampai di Pidie Jaya, air sudah naik. Maka kami langsung melaksanakan operasi di sana. Sementara di Aceh Utara dan Lhokseumawe, Satgas SAR binaan Basarnas yang terdiri dari relawan lokal sudah turun lebih dulu,” jelasnya.

Tak lama kemudian, laporan banjir juga datang dari Langsa. Personel SAR yang sudah berada di Pos SAR Langsa langsung bergerak melakukan evakuasi. “Bencana ini berkembang cepat. Ketika satu daerah ditangani, daerah lain menyusul. Kami harus mengatur pergerakan tim secara dinamis,” katanya.

Meski sudah memasuki dua minggu lebih, Ibnu Harris memastikan Basarnas tetap menjalankan operasi sepanjang status darurat bencana masih berlaku. “Selama masih dalam masa tanggap darurat, operasi pencarian dan evakuasi tidak akan dihentikan. Target kita seluruh korban yang dilaporkan hilang bisa ditemukan.”

Kepala Kantor Basarnas Banda Aceh menegaskan, seluruh operasi SAR baru akan ditutup jika seluruh proses evakuasi dan pencarian tuntas.

Dalam pemaparannya, Ibnu Harris menyebut beberapa tantangan utama yang memperlambat operasi: Akses jalan terputus, banyak rute darat tidak bisa dilalui personel dan kendaraan SAR. Lantas adanya material banjir dan longsor, berupa kayu besar, lumpur, dan bebatuan menutup jalur evakuasi. Arus sungai yang kuat, terutama di permukiman dekat aliran sungai besar juga menghambat proses evakuasi.  “Tantangan terbesar kami adalah akses. Banyak jalan darat tidak bisa ditembus karena tertutup material longsor atau hanyutan banjir. Ini membuat proses pencarian membutuhkan waktu lebih lama,” ungkapnya.

Untuk itu, Basarnas mengerahkan peralatan navigasi, deteksi, hingga perahu karet dan drone untuk menembus lokasi yang tidak dapat diakses kendaraan.

Satu hal, Ibnu Harris menegaskan Basarnas telah mengoptimalkan semua sumber daya untuk mempercepat pencarian korban di seluruh titik terdampak.  “Kami berusaha secepat mungkin, tetapi area yang terdampak sangat luas. Fokus utama kami tetap menyelamatkan dan menemukan korban.” (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *